TEMPAT BERBAGI HAL-HAL YANG BERMANFAAT

Friday, December 25, 2009

"Matahari Tenang"" Menyebabkan Cuaca Ekstrem

Cuaca ekstrem di lintang utara, antara lain, Eropa dan Amerika bagian utara yang terjadi beberapa hari terakhir ini terkait dengan kondisi ”Matahari tenang” yang berkepanjangan. Selain itu, disebabkan oleh perubahan iklim global.
Hal ini dijelaskan Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin, Rabu (23/12/2009) di Jakarta.
Thomas mencatat beberapa musim dingin yang minim salju terkait dengan kondisi Matahari aktif dan sebaliknya musim dingin bersuhu ekstrem di Bumi terkait dengan Matahari tenang, yaitu sedikit hingga tanpa adanya bintik Matahari.
Menurut pemantauan Clara Yono Yatini, Kepala Bidang Matahari dan Antariksa Lapan, penurunan kejadian bintik Matahari mulai terlihat sejak 2000.
Bintik hitam yang tampak di permukaan Matahari melalui teropong dilihat dari sisi samping menyerupai tonggak-tonggak yang muncul dari permukaan Matahari. Tonggak itu terbentuk dari aktivitas massa magnet yang terpelintir atau berpusar di perut Matahari hingga menembus permukaan.
Bintik hitam Matahari itu berdiameter sekitar 32.000 kilometer atau 2,5 kali diameter rata-rata Bumi. Akibat munculnya bintik Matahari, suhu gas di fotosfer dan kromosfer di atasnya dapat naik sekitar 800 derajat celsius dari normal. Hal itu mengakibatkan gas ini memancarkan sinar lebih besar dibandingkan gas di sekelilingnya.
Di atas bintik Matahari, yaitu di daerah kromosfer dan korona juga dapat terjadi badai Matahari dan ledakan cahaya yang disebut flare.
Cuaca Bumi
Lonjakan massa gas bersuhu tinggi ini tidak hanya memengaruhi magnet Bumi, tetapi juga cuaca di atmosfer Bumi, lanjut Thomas, pakar astronomi dan astrofisik. Kondisi Matahari juga berefek pada intensitas curah hujan di Indonesia.
Data Lapan menunjukkan ada kecenderungan curah hujan berkurang saat Matahari tenang. Secara global, efek aktivitas Matahari mengemisikan gas rumah kaca, terutama CO. Akibatnya, iklim ekstrem dapat lebih sering terjadi dengan intensitas yang cenderung menguat. (YUN)
kompas.com

Bukti Pertama Pantulan Cahaya dari Cairan di Luar Bumi

Wahana ruang angkasa Cassini yang tengah melayang di sekitar Planet Saturnus merekam cahaya dari permukaan Titan, salah satu bulannya planet tersebut. Cahaya tersebut kemungkinan besar sebagai pantulan cahaya Matahari di atas permukaan cairan salah satu danau raksasa di permukaan Titan.

Dari hasil pengamatan selama ini, Titan memang diyakini memiliki danau-danau raksasa berisi cairan meski tak dapat terlihat langsung karena tertutup atmosfernya yang tebal. Meski demikian, kamera inframerah dapat menangkap pantulan berkas cahaya Matahari yang sampai ke permukaan danau tersebut. Foto yang dibuat Cassini merupakan rekaman pertama pantulan cairan di luar Bumi itu.

"Gambar ini merupakan salah satu foto ikonik Cassini," ujar Bob Pappalardo, ilmuwan di Laboratorium Propulsi Jet NASA di Pasadena, California, yang tergabung dalam riset Cassini. Ia mengatakan, Titan semakin mirip Bumi tidak hanya punya atmosfer, tetapi juga danau berisi cairan dan sifat-sifat lainnya.

Cahaya yang direkam Cassini merupakan pantulan cairan di bagian selatan danau raksasa yang disebut Kraken Mare. Danau tersebut seluas 400.000 km persegi atau lebih besar daripada Laut Kaspia, danau terbesar di Bumi saat ini.

Titan merupakan satu-satunya obyek di tata surya, selain Bumi, yang sejauh ini diketahui mengandung cairan. Namun, cairan yang menggenangi danau-danau di Titan bukanlah air seperti di Bumi, melainkan metana dan etana, cairan hidrokarbon yang terbentuk dari molekul-molekul karbon dan atom-atom hidrogen.

Teori adanya cairan di Titan sudah dikemukakan sejak 20 tahun lalu dan terus dilakukan penelitian untuk membuktikannya. Pada tahun 2008, kamera inframerah yang dibawa wahana Cassini yang sudah menjelajah kawasan tersebut sejak tahun 2004 memastikan kandungan cairan di Ontario Lacus, danau terbesar di belahan selatan Titan. Belahan utara malah memiliki danau-danau lebih besar dan banyak belum bisa dipastikan apakah mengandung cairan atau tidak.

Kandungan cairan hidrokarbon di Titan menarik perhatian para ilmuwan karena zat kimia tersebut berpotensi mendukung kehidupan. Siapa tahu masih ada kehidupan di sana atau suatu saat manusia menginjakkan kakinya di permukaan Titan.

http://sains.kompas.com/read/xml/2009/12/22/1644428/bukti.pertama.pantulan.cahaya.dari.cairan.di.luar.bumi